Archive for May, 2006

Sharing Vision: Pengadaan Teknologi Informasi, IT Audit / Governance & Aspek Hukumnya dalam Satu Perspektif

Monday, May 29th, 2006
Kembali masalah pengadaan teknologi informasi mengalami sorotan. Perbedaan persepsi mengenai cara penaksiran harga mengakibatkan orang masuk bui. Sharing vision kali ini ingin mengupas topik tersebut, serta mengajukan kerangka usulan penaksiran harga. Tempat: Grand Preanger Bandung Situs web: http://sharingvision.biz Kontak: Intan/Yasser/Asep, telp: (022)-2532692, fax: (022)-2514758

Resensi ADA Band - Romantic Rhapsody

Friday, May 26th, 2006

Setelah mendapatkan CD ADA Band, saya buatkan resensinya di situs ini
budi.insan.co.id/ADA-Band
Pergi ke bagian "Discography" dan klik "Romantic Rhapsody".
Singkatnya, 5 bintang dari skala maksimum 5. Sangat bagus!

My hotmail is now 25MB

Friday, May 26th, 2006
I have just realized that my hotmail space is now 25 MB! Yay! Originally, since it was created long time ago, it was 2 MB. Nowadays, 2 MB is nothing so I didn't use it. It is always full with junk and spam mails. My account has a simple mail address (a common name in Indonesia). Now, with 25 MB I can use it. I hope.

Pengganti tas plastik kresek

Monday, May 15th, 2006

Teringat hari tanpa tas plastik di India, saya berpikir … bagaimana kalau tas kresek yang notabene dibuat dari plastik digantikan dengan alternatif lain? Sebetulnya ada banyak alternatif, antara lain:

  • Kertas. Di luar negeri lazim digunakan “brown bag“, yaitu kantong yang terbuat dari kertas warna coklat. Di Indonesia saya juga sering melihat hal ini. Saya lihat kantong kertas yang digunakan oleh tukang jual tahu goreng, combro, dan gorengan secara umum menggunakan kertas. (Meskipun ini mesti kita pertanyakan kebersihan dari kertas bekas ini dan juga tinta yang melekat di kertas tersebut.) Sayangnya biasanya masih dibungkus dengan tas kresek plastik lagi.
  • Besek dan bongsang. Masih ingat jaman dahulu kalau beli makanan biasanya dibungkus dengan besek. Saya masih melihat penjual tahu Sumedang masih pakai bongsang. Bagus. Sekarang sebagian besar tempat menggunakan kotak dari styrofoam. Mengapa tidak kita populerkan besek? Ini bisa menjadi industri kecil tersendiri. Bahannya toh banyak diperoleh di Indonesia. Sekalian menumbuhkan semangat menanam.

Untuk sementara, jika Anda berbelanja, bawalah tas plastik bekas sehingga tidak perlu meminta tas plastik lagi dari penjual. Paling tidak, berkurang penggunaan 1 tas plastik di dunia. Bagaimana kalau kita mulai sebuah inisiatif “kurangi penggunaan tas kresek” atau
“saya mau pakai besek saja, pak”?

Giliran edublogs yang gak jalan

Wednesday, May 3rd, 2006
Kemarin saya mempostingkan artikel di blog saya yang budi.edublogs.org
Eh, sekarang down:


Parse error: syntax error, unexpected $end in /home/edublogs/public_html/wp-inst/wp-includes/functions.php on line 2305


Gitu katanya. Aduh. Mana layanan blog yang paling handal?

Lagu minggu ini …

Tuesday, May 2nd, 2006

Lagu yang paling sering saya dengarkan minggu ini adalah "Janji Kita" dari Kerispatih. Asyik dipakai teman jogging, jalan-jalan sekitar rumah.

Masalah Buku Teks

Tuesday, May 2nd, 2006

Saya masih bingung soal penggunaan buku teks untuk kuliah yang saya ajarkan. Ada beberapa pertanyaan yang belum bisa saya jawab. Mari kita bahas permasalahan yang saya hadapi, yang kemungkinan besar dihadapi oleh dosen lain.

Dalam memilih buku teks yang digunakan untuk sebuah kuliah (bila saya diperkenankan untuk menentukan buku teksnya), biasanya saya melihat kuliah yang serupa di luar negeri. Untungnya Internet memungkinkan saya untuk melihat informasi mengenai kuliah di perguruan tinggi lain di luar negeri. Saya lakukan survey buku teks yang paling banyak digunakan dan juga review (terkadang debat) mengenai buku teks tersebut. Biasanya muncul satu atau dua buku yang dijadikan “standar.” Sebagai contoh, kalau di kuliah compiler construction biasanya buku “Dragon” (buku yang bergambar naga) karangan Aho dan kawan-kawan menjadi buku standar. Buku tersebut saya jadikan buku teks di kuliah saya.

Alasan saya memilih buku yang sama dengan perguruan tinggi di luar negeri adalah agar mahasiswa saya juga sama standarnya dengan mahasiswa lain di luar negeri. Ketika mereka nanti melanjutkan S2/S3 di luar negeri maka mereka tidak minder atau berbeda dengan mahasiswa lokal di sana karena buku teksnya sama. Itu juga yang saya alami ketika mengambil pasca sarjana di luar negeri. Buku teks yang saya pakai di ITB waktu S1 dulu ternyata sama dengan yang dipakai di Canada. Jadi lebih mudah bagi saya untuk menyesuaikan diri.

Saya juga tetap mengajurkan mahasiswa untuk menggunakan buku teks tersebut dalam Bahasa Inggris, bukan terjemahannya. Alasannya juga sama. Beberapa buku yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia ternyata lebih sulit dibaca karena maknanya menjadi hilang dan terlalu banyak istilah Indonesia yang “tidak standar” sehingga manfaat penggunaan buku teks yang sama menjadi hilang atau berkurang. Jika “steady state” diterjemahkan menjadi “tunak” maka mereka akan bingung jika berdiskusi dengan rekannya yang menggunakan Bahasa Inggris. (Saya pernah punya pengalaman buruk karena menggunakan kata “sinus” ketika menerangkan “sine wave“. Sinus di Bahasa Inggris artinya sakit kepala di pelipis. ha ha ha.) Lagi pula bidang ilmu saya lebih banyak istilah-istilah yang menyulitkan kalau diterjemahkan. Jadi lebih baik buku teks tetap menggunakan Bahasa Inggris.

Namun pemilihan buku teks seperti yang saya inginkan ini ternyata membawa masalah baru, yaitu bagaimana mahasiswa saya bisa memperoleh buku tersebut dengan harga yang terjangkau? Tidak mungkin bagi mahasiswa saya untuk membeli buku teks seharga US$50. Di Indonesia belum ada penerbit yang berusaha untuk bekerjasama dengan penerbit luar negeri dalam menerbitkan buku yang sama untuk pasar Indonesia.

Apa alternatif solusinya?

Pertama, buku difotocopy. Aduh. Saya tidak suka dengan pendekatan ini karena nanti kita dianggap sebagai negara yang tidak menghargai HaKI. Solusi ini yang banyak diambil. Atau dengan kata lain, para pengajar tutup mata kalau melihat mahasiswa membuat fotocopy dari buku teks tersebut.

Alternatif kedua adalah menterjemahkan buku teks tersebut. Namun artinya tujuan saya untuk tetap menggunakan Bahasa Inggris menjadi buyar. Meskipun proses penterjemahan membutuhkan waktu, alternatif ini dapat dilakukan.

Alternatif ketiga, bekerjasama dengan penerbit aslinya untuk membuat versi yang dijual di Indonesia dengan harga yang lebih murah. Ini alternatif solusi yang paling elegan. Solusi ini yang saya lihat dilakukan di India. Biasanya ada buku “versi internasional” dengan kertas yang lebih tipis dan agak kekuning-kuningan sehingga kelihatan seperti buku yang lusuh, tapi sebetulnya tidak masalah karena yang penting kan isinya. Sayangnya alternatif ini belum ada yang memulai dan saya tidak memiliki koneksi untuk melakukan hal ini. (Ada yang berminat?)

Alternatif keempat, membeli buku dan menyimpannya di perpustakaan untuk dipinjam mahasiswa. Alternatif ini hanya cocok untuk jumlah mahasiswa yang sedikit. Kelas yang saya ajar (kadang paralel dengan dosen lain) bisa mencapai 200 orang. Alternatif ini tidak bisa digunakan di kuliah saya.

Apa ada alternatif lainnya? Bagaimana pendapat Anda? Saya yakin ini bukan masalah saya sendirian, tapi masalah banyak dosen. Apakah tidak ada yang tertarik untuk memecahkan masalah ini? Tutup mata saja?